Belajar dari "Jon Jandai"

Bagi saya, pagi selalu menyenangkan, karena pagi selalu memberikan harapan-harapan baru. Seperti halnya pagi ini, saya memperoleh inspirasi dari seorang "Jon Jandai". Pada saat sekarang ini kita bisa belajar dari mana pun dan dengan siapapun. Dan pagi ini saya belajar dan memperoleh inspirasi dari seorang "Jon Jandai". Jon Jandai diundang pada tahun 2011 lalu untuk berbicara di Tedx "Life is easy. Why do we make it so hard? lebih lengkapnya bisa dilihat dilink berikut https://www.youtube.com/watch?v=21j_OCNLuYg.

Dari Jon jandai ini saya belajar bahwa sebenarnya hidup adalah mudah, kenapa dibuat susah. Ini adalah kata-kata yang disampaikan oleh Jon Jandai dalam presentasinya di Tedx. Jon Jandai merupakan seorang petani dari Thailand dan pendiri Pun Pun. Pun Pun merupakan pusat pertanian organik yang terletak di Thailand dan sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat. Bagi teman-teman yang merasa hidupnya susah, silahkan lihat dan simak presentasi yang disampaikan oleh Jon Jandai ini.

"Hidup adalah mudah dan sangat menyenangkan", ini adalah kata-kata yang disampaikan oleh Jon Jandai tersebut. dari Jon Jandai ini saya belajar melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda. Jon Jandai lahir di sebuah desa "miskin" yang terletak di bagian Timur Laut Thailand. Jon Jandai kecil merasa pada saat ia kecil hidup terasa mudah dan menyenangkan. Namun, hal itu terasa berbeda ketika TV mulai masuk kedalam desanya dan banyak orang yang datang serta mengatakan bahwa "Kalian miskin, kalian harus sukses dalam hidup ini, dan kamu harus ke Bangkok untuk mengejar kesuksesan hidup". Sehingga hal ini membuat Jon Jandai merasa sedih dan merasa miskin sekali dan ia pun memutuskan untuk pergi ke Bangkok. Ketika ia sudah sampai di Bangkok, namun ternyata keadaan tidak menyenangkan. 

"Saya bekerja sangat keras, paling tidak 8 jam dalam sehari. Tapi saya hanya bisa makan semangkuk mie atau sepiring nasi goreng. Tempat tinggal saya buruk sekali. Sebuah ruangan kecil yang ditempati banyak orang. Dari situlah saya mulai bertanya, Kenapa ketika saya mulai bekerja keras, hidup saya malah mulai susah? Pasti ada yang salah, saya telah menghasilkan banyak hal namun kebutuhan saya tak pernah tercukupi".

Kemudian Jon Jandai pun mulai berpikir dan mengingat masa kecilnya yang sangat menyenangkan. Semua orang bekerja dua bulan pertahun. Sebulan menanam padi dan sebulan lagi memanen. Sehingga orang-orang punya banyak waktu. Dengan memiliki banyak waktu tersebut, mereka memiliki waktu untuk diri mereka sendiri sehingga  mereka memiliki banyak waktu untuk memahami diri mereka sendiri. Hal ini membuat mereka mengetahui apa yang mereka inginkan dalam hidup ini. Mereka menginginkan cinta, mereka ingin menikmati hidup. Selanjutnya Jon Jandai pun memutuskan untuk kembali ke desanya dan memulai hidup seperti masa kecilnya dahulu. Bekerja dua bulan setiap tahunnya. 4 ton beras yang dihasilkan oleh Jon, hanya sebanyak 0,5 ton beras yang digunakan pertahun untuk kebutuhan keluarganya, kemudian sisanya dijual. Jon juga membuat 2 petak kolam dan dari kolam tersebut keluarganya memperoleh ikan untuk dimakan. Lalu Jon juga membuat kebun kecil yang luasnya tidak sampai 2000 meter persegi yang membutuhkan waktu hanya 15 menit untuk merawat kebunnya. hasil dari kebun tersebut juga tidak habis dimakan oleh keluarganya sehingga sebagian dari hasilnya bisa ia jual.

"Saya merasa hidup saya lebih mudah. dan saya bertanya-tanya, untuk apa dulu saya menghabiskan waktu 7 tahun di bangkok dan sehari bekerja 8 jam kalau hanya makan semangkuk mie? saya bekerja keras namun susah untuk makan. Di sini, di kampun saya ini, saya hanya perlu bekerja dua bulan dalam setahun disawah, dan 15 menit perhari, dan saya bisa memberi makan 6 orang".

Dari Jon Jandai ini saya juga belajar bahwa "Kita tak perlu menjadi seperti orang lain, karena setiap orang adalah unik". Ketika kita memilih jalan berbeda dari yang lainnya bukan berarti jalan yang kita pilih ini buruk dan tidak baik. Jon Jandai mendirikan Pun Pun di Chiang Mai mengingat kehidupan yang suram yang telah ia lalui selama 7 tahun di Bangkok. Tujuan dari pendirian Pun Pun ini adalah untuk menyimpan benih tanaman. 
"Karena benih adalah makanan, karena makanan adalah kehidupan, tak ada kehidupan jika tak ada makanan. Tak ada benih maka tak ada kebebasan. Tak ada benih maka tak ada kebahagiaan. Hidup tak akan tergantung dengan orang lain jika kita punya benih"-Jon Jandai
Jon Jandai juga menekankan bahwa segala kebutuhan primer: makanan, rumah, pakaian dan obat-obatan haruslah mudah dan murah untuk semua orang. Itulah peradaban. Jika yang terjadi adalah sebaliknya maka yang terjadi adalah ketidakberadaban. Kita semua bekerja keras namun hidup makin sulit. Lalu untuk apa dan untuk siapa kita bekerja keras? Jon mengatakan bahwa kita hanya butuh kembali menjadi orang normal. Burung membuat sarang satu sampai dua hari. Tikus membuat lubang dalam semalam. Tapi makhluk cerdas seperti kita membutuhkan waktu 30 tahun untuk memiliki rumah. dan masih banyak yang masih pesimis untuk bisa memiliki rumah. Menurut Jon Jandai itu merupakan pemikiran keliru. Kenapa kita menghancurkan kemampuan kita sedemikian rupa, sedangkan kita memiliki pilihan, mau memilih yang susah atau yang sulit. 

"Banyak orang bilang bahwa saya gila. Tapi itu kata mereka. Saya tidak bisa mengatur apa yang mereka pikirkan. Tapi saya bisa mengatur apa yang saya pikir dan saya kerjakan. Saya punya pilihan. Demikian anda". Benar sekali, dari kata-kata Jon Jandai ini saya jadi belajar bahwa kita tak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan tentang kita, kita hanya bisa mengatur apa yang kita pikirkan dan kerjakan, jangan mendengar semua omongan orang lain jika itu hanya membuat kita menjadi lemah dan hancur. Lakukan jika sesuatu tersebut baik menurut kita. Hal ini mengingatkan saya kepada kata-kata yang selalu ayah saya berikan kepada saya ketika saya merasa sedang down. "Jangan mendengarkan semua omongan orang, apalagi jika omongan tersebut membuat kita semakin jatuh dan terpuruk. Biarkan saja mereka mau berkata apa, toh mereka itu sebenarnya tidak mengetahui apa yang sedang kita lakukan. Tugas kita hanya perlu melakukan yang terbaik. Ada kalanya kita perlu mendengar yang orang lain katakan tentang kita dan adakala kita perlu menutup telingga akan hal tersebut". Saya sangat bersyukur sekali memiliki orang tua yang selalu mensupport apa yang saya lakukan. Tidak ada harta yang terindah didunia ini selain memiliki orang-orang yang menyayangi kita dengan sepenuh hati tanpa pamrih. Semoga nanti ketika saya sudah menjadi orang tua, saya bisa menjadi orang tua dalam arti yang sesungguhnya, bukan hanya sebagai orang tua yang ada raganya tanpa berinteraksi dengan anak-anaknya dengan alasan kesibukan atau lainnya. Karena menurut saya menjadi orang tua tidak hanya sekedar memberikan kebutuhan finansial saja namun lebih dari itu, bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya, bisa menjadi teman cerita bagi anak-anaknya karena kebahagian tidak hanya melulu tentang persoalan terpenuhi semua kebutuhan finansial saja. Seperti yang dikatakan oleh Jon Jandai, hidup adalah sederhana dan menyenangkan. Jon merasa bebas dan lebih merasa merdeka ketika ia hanya membeli apa yang ia butuhkan saja bukan apa yang ia inginkan.

Hari ini saya juga memperoleh inspirasi dari tulisan yang ditulis oleh Bapak Arya Hadi Dharmawan, beliau merupakan pembimbing saya, dari beliau saya belajar banyak dan tulisan-tulisannya selalu bisa menginspirasi dan memberi semangat baru, salah satu tulisan beliau yang saya baca hari ini yaitu "Bila menghadapi sebuah persoalan yang rumit, seorang yang berilmu pengetahuan tinggi mampu menjelaskannya secara sederhana tentang apa yang terjadi. Sebaliknya, orang yang kurang berilmu pengetahuan akan berumit-rumit dalam berpikir maupun dalam merangkai kata-kata, walaupun hanya menjelaskan sesuatu yang sejatinya hanya sederhana saja". Dari tulisan beliau ini saya belajar bahwa ketika saya tidak mampu menjelaskan secara sederhana persoalan yang sedang saya hadapi itu artinya saya membutuhkan banyak belajar lagi sehingga saya bisa menjelaskannya dengan sederhana. Seperti halnya ayah saya selalu mengajarkan saya untuk bisa melihat dari sudut pandang yang lain ketika terjadi sebuah persoalan. Karena tidak ada persoalan tanpa penyelesaian. Serumit apapun hal tersebut akan selalu ada jalan untuk menyelesaikannya, semua tergantung kita melihatnya hanya fokus pada persoalan atau fokus dalam hal mencari penyelesaiannya.

Salam Semangat dan teruslah berbuat kebaikan karena apapun yang kamu tanam itulah yang akan kamu terima nantinya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Perencanaan Pendidikan Anak Sejak Dini

Harapan di Pulau Sabu